NEWS ARSO – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mengalokasikan dana sebesar Rp75.986.474.452 sebagai bentuk dukungan bagi mahasiswa dan dosen yang terdampak bencana banjir serta longsor di sejumlah wilayah di Sumatera. Bantuan ini disiapkan untuk meringankan beban biaya hidup para penyintas yang tengah menghadapi situasi sulit akibat bencana alam yang melanda dalam beberapa pekan terakhir.

Anggaran tersebut merupakan bagian dari program tanggap darurat sektor pendidikan tinggi, yang dirancang untuk memastikan proses pendidikan tetap berjalan tanpa mengabaikan kebutuhan dasar sivitas akademika.
Baca Juga : Prabowo Setuju Bantu 60 Juta untuk Rumah Warga Terdampak Bencana Sumatra
Difokuskan untuk Biaya Hidup Korban Bencana
Menurut keterangan resmi Kemendiktisaintek, dana tersebut diarahkan untuk mendukung kebutuhan harian mahasiswa dan dosen yang terdampak langsung. Banyak dari mereka kehilangan tempat tinggal, akses transportasi, maupun sumber penghasilan, sehingga bantuan biaya hidup dianggap menjadi prioritas utama.
Bantuan akan diberikan dalam bentuk biaya hidup bulanan, bantuan tunai, serta paket pemenuhan kebutuhan dasar lainnya. Pemerintah berharap langkah ini dapat membantu mahasiswa tetap melanjutkan studinya tanpa terhambat kondisi ekonomi akibat bencana.
Kemendiktisaintek Pastikan Penyaluran Tepat Sasaran
Kemendiktisaintek menegaskan bahwa proses pendataan penerima bantuan dilakukan secara cermat melalui koordinasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, serta lembaga terkait lainnya. Verifikasi data dilakukan untuk memastikan bantuan diterima oleh mahasiswa dan dosen yang benar-benar terdampak dan membutuhkan.
Perguruan tinggi di wilayah Sumatera yang mengalami dampak bencana telah diminta mempercepat pengiriman data mahasiswa terdampak agar penyaluran dapat dimulai secepatnya. Mekanisme pencairan dirancang agar sederhana, cepat, dan dapat dipantau secara transparan.
Dukungan untuk Keberlanjutan Pendidikan
Selain bantuan biaya hidup, Kemendiktisaintek juga menyiapkan dukungan tambahan berupa relaksasi akademik bagi mahasiswa di wilayah bencana. Mulai dari penundaan pembayaran UKT, kemudahan perkuliahan daring sementara, hingga bantuan sarana belajar darurat bagi kampus yang mengalami kerusakan.
“Fokus kami bukan hanya membantu mahasiswa bertahan secara ekonomi, tetapi juga memastikan kegiatan akademik mereka tidak terputus,” demikian penjelasan dari pihak kementerian.
Komitmen Negara Hadir bagi Dunia Pendidikan
Pemerintah menegaskan bahwa pendidikan tinggi harus tetap menjadi prioritas meski di tengah kondisi krisis. Dengan dukungan anggaran hampir Rp76 miliar, negara menunjukkan komitmennya dalam menjaga keberlanjutan pendidikan, khususnya bagi masyarakat di daerah terdampak bencana.
Bantuan ini diharapkan tidak hanya meringankan beban para mahasiswa dan dosen, tetapi juga membantu memulihkan kondisi sosial di wilayah-wilayah yang terkena banjir dan longsor.







