NEWS ARSO – Sebuah insiden memicu kemarahan warga di Kabupaten Asmat, Papua Selatan, setelah seorang pria dilaporkan tewas diduga akibat tembakan aparat TNI. Peristiwa itu terjadi pada awal Oktober 2025 ketika korban, yang disebut dalam kondisi mabuk, sedang diamankan oleh aparat.

Menurut keterangan saksi, warga sekitar terkejut dengan tindakan aparat yang dinilai berlebihan. “Kami sangat menyesalkan. Orang mabuk bisa ditangani dengan cara lain, bukan dengan peluru,” ujar seorang tokoh masyarakat setempat.
Baca Juga : Dukung swasembada pangan, Menteri Nusron pastikan tanah di Wanam Papua Selatan presisi pengukurannya
Kronologi Dugaan Penembakan
Berdasarkan informasi awal, korban sempat membuat keributan di sebuah perkampungan di Asmat. Aparat TNI kemudian datang untuk mengamankan situasi. Namun dalam prosesnya, terjadi ketegangan yang berujung pada penembakan.
Korban dilaporkan terkena peluru dan meninggal di lokasi. Kejadian ini langsung menyulut emosi warga yang menilai aparat tidak proporsional dalam menangani masyarakat sipil yang sedang berada dalam pengaruh alkohol.
Pertanyaan Publik: Prosedur yang Dipertanyakan
Kasus ini menimbulkan pertanyaan besar dari masyarakat setempat maupun aktivis HAM. Mereka menilai penggunaan senjata api dalam menghadapi warga yang mabuk sama sekali tidak sesuai dengan prosedur keamanan.
“Kenapa menangani orang mabuk harus pakai senjata? Ini sangat berbahaya, bisa memicu ketidakpercayaan masyarakat terhadap aparat,” ujar salah satu aktivis HAM Papua.
Respons Aparat dan Investigasi
Hingga kini, pihak TNI belum memberikan keterangan resmi detail terkait insiden tersebut. Namun, sejumlah sumber internal menyebutkan bahwa investigasi sedang dilakukan untuk memastikan kronologi dan siapa pihak yang bertanggung jawab.
Pemerintah daerah Asmat juga meminta agar kasus ini diusut tuntas demi menjaga kepercayaan masyarakat terhadap aparat. “Kami minta ada keterbukaan dan proses hukum yang jelas. Jangan sampai ada kesan pembiaran,” tegas seorang pejabat setempat.
Dampak Sosial dan Potensi Ketegangan
Insiden ini berpotensi memicu ketegangan antara warga dan aparat jika tidak segera ditangani dengan serius. Beberapa kelompok masyarakat bahkan sudah menyuarakan aksi protes damai untuk menuntut keadilan atas tewasnya korban.
Tokoh agama di Asmat mengingatkan agar warga tetap menahan diri dan tidak terpancing emosi. “Kita harus mendorong penyelesaian kasus melalui jalur hukum, bukan kekerasan balasan,” ujarnya.
Penutup
Dugaan penembakan warga sipil oleh aparat TNI di Asmat kembali menyoroti pentingnya evaluasi prosedur keamanan di Papua. Masyarakat menuntut agar aparat lebih mengedepankan pendekatan persuasif, bukan represif, apalagi terhadap warga dalam kondisi mabuk.
Kasus ini kini menjadi ujian serius bagi aparat keamanan dalam menjaga kepercayaan publik, sekaligus momentum bagi pemerintah untuk memastikan penegakan hukum yang transparan dan adil.







